SEJARAH SASAK
SEJARAH SASAK
1.
Asal-usul Nenek Moyang Orang Sasak
a.
Berdasarkan
data temuan [1]arkeologis
Manusia purba di Indonesia berasal dari jenis homo sapiens, yang terdiri atas ras Mongoloid dan Austromelanesoid. Adapun penyebaran ras tersebut di Indonesia diuraikan sbb.
1) Ras Mongoloid. khusus sub ras Melayu-Indonesia, tersebar di sebagain wilayah Indonesia di bagian Barat dan Selatan antara lain: Sumatera, Jawa, Bali dan Lombok.
2)
Ras
Austromelanesoid, tersebar di wilayah Indonesia bagian Timur terutama Irian
Jaya dan pulau-pulau di sekitarnya.
Secara umum
nenek moyang suku bangsa Indonesia menyusuri lembah-lembah sungai di Vietnam
dan Tailand kemudian sampai di Semenanjung Malaya, sebuah daerah semenanjung di wilayah daratan Asia Tenggara. Semenanjung ini berbatasan dengan laut Andaman di Samudra Hindia di arah barat laut, Selat Malaka di arah barat daya, Selat Singapura di selatan, laut Natuna di arah tenggara, dan pulau Sumatra di arah barat.
Pada
tahap berikutnya, nenek moyang suku bangsa Indonesia meneruskan perjalanan
menggunakan perahu bercadik ke Sumatera, Jawa Bali, Nusa tenggara termasuk
Lombok sampai ke flores dan Sulawesi Selatan (Wikipedia.id). Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa nenek moyang suku bangsa Indonesia berasal dari Asia
Tenggara.
Menurut
Drs. M.M. Sukarto dan Prof. Solheim, guru besar di Universitas Hawai penemuan
di gunung piring pulau Lombok bagian selatan menjelaskan bahwa tempat
tersebut telah dihuni oleh manusia yang kebudayaannya hampir sama dengan
penduduk di Vietnam Selatan di Goa Tabon, Gua Sasak di Pulau Pallawan
–Filipina, di Gilimanuk Bali dan Malielo-Sumba yang dikelompokkan ke dalam Shan
Huyn Kalanny Tradition.
Berdasarkan
[3]ekskavasi
ditemukan bahwa yang datang ke pulau
Lombok adalah keturunan Mongloid yang telah mengenal berbagai peralatan dan dan
perabotan rumah tangga yang menunjukkan peradaban tiinggi.
b.
Berdasarkan Temuan Etnografi
Bukti-bukti
etnografi menjelaskan bahwa etnis Sasak merupakan penetrasi atau keturunan dari
suku Jawa yang menyeberang ke Bali kemudian ke Lombok.
Pada abad ke-7,
Dinasti Majapahit semakin banyak
melakukan migran-migran yang
melakukan penetrasi dalam rangka
penguasaan, perdagangan dan penyebaran misi agama dan kemudian bertempat
tinggal di Lombok. Bukti yang tetulis adalah tong dari perunggu bertuliskan “Sasak Dana Perihan srih Java
nira” yang berangkakan tahun 1077 Masehi (Sudirman, Bahri, 2014:9).
Penyebarangan
migran Jawa ke Lombok ditandai dengan adanya beberapa hal sebagai berikut.
a)
Kesamaan
nama tempat seperti Kediri, Kuripan, Keling, Jenggala, Pajang Mataram, Gresik,
Surabaya, Medang, Menggala, Wanasaba, Suralaga, Pringgabaya, Kotaraja,
Suradadi, Sukaraja, Kotaraja, Peneraga dan lain-lain.
b)
Pemberian
nama-nama Jawa pada seseorang seperti
Raden Wiracempaka, Mamiq Diguna, Loq Swarna, Baiq Diah Purwanti, La Sumirah,
Setiawati dan lain-lain.
c)
Bahasa,
kesenian, permainan rakyat, tata nilai, adat istiadat, memiliki kesamaan yang
relative dominan. Selain itu, tulisan huruf yang disebut jejawen atau huruf
sasaka dengan bahasa kawi menjadi tulisan dan bacaan, bahkan wacana yang
dominan dalam kitab-kitab Sasak yang disebut takepan.
c.
Berdasarkan Analisis Mitokondria (mtDNA) oleh Stephen Oppenheimer
(2010)
Oppenheimimer
mengatakan bahwa paparan Sunda merupakan cikal bakal Kepulauan Nusantara, yang
menjadi asal muasal persebaran manusia. Hubungan mtDNA oranng Sundaland
menunjukkan hubungan kekerabatan sejak 40.000 tahun lalu. Dengan demikian orang
kepulauan Nusantara-lah yang menjadi leluhur orang Asia.
d.
Menurut Setiadi Sopandi,
Sejarawan Arsitek Universitas Indonesia
Setiadi Sopandi melakukan penelitian
bersama arsitektur dunia lainnnya dan menyimpulkan bahwa arsitek lumbung
padi yang hingga saat ini masih dilihat bentuk aslinya, ternyata sudah
berumur 3.500 SM, melebihi usia piramida mesir kuno dan kuil-kuil kuno
lainnya di dunia. Hal ini menunjukkan peradaban masyarakat Sasak pada masa itu
sudah lebih maju dibandingkan dengan peradaban lainnya. Artinya, peradaban
masyarakat Sasak sudah ada pada masa Nabi Nuh Alaihissalam. Menurut catatan
sejarah, Nabi Nuh Alaihissalam memilki
masa hidup antara 3900-3043 SM.
(dalam Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Provinsi NTB, 2018)
2.
Asal Usul Penamaan Suku Sasak-Lombok
Korelasi
signifikan antara nama suku (Sasak Lombok) dengan sikap dan perilaku keseharian
masayarakat Sasak ditemukan misalkan pada sikap mereka yang bersahaja. Kalaupun
terjadi perubahan terhadap watak aslinya merupakan imbas dari kemajuan sains
dan teknologi.
Di bawah ini dipaparkan terkait arti
Sasak dari beberapa pandangan:
a)
Sumber
lisan: Disebut Sasak, karena zaman dahulu ditumbuhi hutan belantara yang sangat
rapat (rapat=sesek)
b)
Tim
Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa: Sasak diartikan buluh
bamboo atau kayu yang dirakit menjadi satu.
c)
Kitab
Negarakertagama (Decawanana): Sasak dan Lombok dijelaskan, bahwa Lombok Barat
disebut Lombok Mirah dan Lombok Timur disebut Sasak Adi.
d)
Dr.
C.H. Goris: Sasak berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sak, berarti pergi
dan saka berati asal.
e)
Drs.
H. Lalu Azhar (dalam Bahri dan Sudirman, 2014:12) berpendapat bahwa kata sasak
berasal dari kata saq-saq, yang berarti rakit bambu. Jadi, orang
Sasak adalah orang yang meninggalkan negerinya dengan menggunakan rakit sebagai
kendaraannya.
Orang yang pergi tersebut adalah orang Jawa yang
meninggalkan nergerinya ke pulau Lombok.
f)
Dalam
buku Kemdikbud Prov. NTB, menyatakan
salah satu pendapat yang masuk akal adalah bahwa Sasak berasal dari kata saq
yang berarti satu. Satu yang dimaksud adalah bersatu dalam pemahaman,
satu dalam adat dan agama, yang kesemuanya berasal dari Yang Satu.
3.
Sistem Kepercayaan Masyarakat Sasak
Kepercayaan masyarakat Sasak sebelum
Islam datang ke tengah-tengah masyarakat menurut para sejarawan dapat diuraikan
sebagai berikut.
a.
Bodhaisme
Pemujaan dan penyembahan terhadap roh-roh
leluhur dan berbagai dewa lokal sebagai fokus utama dalam praktek keagamaan
Sasak Boda. Kepercayaan bodhaisme bukan
merupakan agama Budha, karena kepercayaan bodha tidak menganggap adanya Dewa
Sidharta Gautama.
Terdapat dua upacara utama
dalam kepercayaan bodhaisme, antara lain;
1)
Upacara
Menunas Kaya
Upacara ini dilakukan untuk memohon kepada
dewa-dewi (Dewi Sri) agar tanaman bethasil
2)
Upacara
Mulih Kaya
Upacara syukuran atas hasil baik
dari tanaman yang diberikan kepada mereka oleh Dwi Sri.
Selain
itu, terdapat upacara kematian. Upacara ini dilakukan persis dengan rangkaian
pengurusan jenazah dalam Islam, hanya saja jenazah tidak disholatkan. Upacara
kematian dilakukan mulai dari jenazah dimandikan, dikafankan, serta dikuburkan
menghadap kiblat. Upacara ini dipimpin oleh mangkubumi.
b.
Animisme
Kepercayaan animisme ini menganggap
benda alam dalam dunia itu berjiwa (mempunyai roh). Kepercayaan ini melakukan
pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang yang telah tiada. Roh-roh tersebut dapat
dipanggil serta dimintai pertolongan
untuk menolak timbulnnya musibah/mengusir roh jahat.
Beberap bukti yang dapat ditemukan
adalah situs penguburan digunung piring. Hal ini menandakan bahwa roh nenek
moyang bersemayam pada tempat yang tinggi.
c.
Dinamisme
Kata dinamisme berasal dari bahasa
prancis, yaitu fetish, yang berarti jimat dalam bahasa Indonesia. Kepercayaan
ini merupakan kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan
gaib (manna).
Bukti kepercayaan ini pernah
berkembnag di Lombok adalah ditemukannya nekara di Pringgabaya tahun 1999.
Nekara tersebut dianggap suci dan digunakan pada saat upacara-upacara tertentu.
d.
Pengaruh Agama Budha
Kepercayaan ini mendasarkan
ajarannya pada semua hal yang diajarkan oleh Sidharta Gautama. Dalam agama ini tidak
mengenal kasta sebagaimana yang ada di
agama Hindu.
Beberap bukti yang menunjukkan
pernah berkembnagnya agama ini di Lombok antara lain:
1)
Temuan
empat buah archa Budha tahun 1960 di Batu Pandang, Kecamatan Pringgabaya,
Lombok Timur. Saat ini patung tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Satu di antara patung tersebut mirip dengan patung yang ada di Candi Brobudur
yang berasal dari abad IX dan X.
2)
Ditemukannya
Genta di Pendua, Desa Sesait, Kecamatan Gangga, Lombok Barat.
e.
Pengaruh Agama Hindu
Agama
ini mengenal tiga Dewa (Dewa Trimurti)
sebagai dewa tertinggi di atas dewa-dewa lainnya. Dewa tersebut antara lain;
dewa brahma sebagai pencipta, dewa wisnu sebagai pemelihara dan dewa siwa
sebagai pemelihara/perusak.
Kerajaan
Majapahit bercorak Hindu berkuasa selama 17 tahun (1292-1309 M) memegang
peranan penting di Nusantara. Temuan arca Siwa Mahadewa tahun 1950. di Batu
Pandang, Desa Sapit Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur. Arca tersebut bergaya Jawa Tengah abad ke 17.
[1] ilmu tentang kehidupan dan kebudayaan kuno berdasarkan benda peninggalannya
[2] perahu yang di bagian kiri dan kanannya ditambahkan sebuah cadik sebagai penyeimbang yang terbuat dari kayu atau bambu)
[3] penggalian yang dilakukan di tempat yang mengandung benda purbakala
4. Sistem Kepemimpinan Masyarakat Sasak
Sistem
kepemimpinan masyarakat Sasak awal adalah sistem kepenguluan. Pimpinannya
disebut dengan ppenghuu alim.
Kepemimpinan pengulu alim berpusat di masjid. Kepemimpinan pengulu atau
kepenguluan bersifat individu, sehingga pusat kepemimpinan terletak pada
pribadi bukan pada institusi atau sistem.
Komentar
Posting Komentar