LEGENDA

Teks Legenda

Cerita rakyat menjadi salah satu sarana penyampaian pesan-pesan moral melalui lisan dari generasi ke generasi. Di sisi lain, kebudayaan dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat tercermin pula melalui cerita rakyat yang dimilikinya.

Ada berbagai macam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, di antaranya fabel, mite, legenda, epos, cerit jenaka, dll. Adapun pada tulisan ini akan membahas mengenai salah satu bentuk cerita rakyat tersebut, yakni legenda. Di bawah ini akan dipaparkan lebih rinci mengenai legenda.

 A.   Pengertian Legenda

Legenda merupakan jenis cerita/prosa rakyat yang berhubungan dengan peristiwa sejarah, baik itu berkaitan dengan suatu peristiwa maupun asal usul terjadinya suatu tempat. Kejadian dalam legenda oleh sebagian besar masyarakatnya dianggap benar-benar terjadi walaupun setiap alur dalam legenda belum tentu kebenarannya. Hal ini disebabkan, kebanyakan legenda telah mengalami distorsi sebagai akibat penceritaan tersebut menyebar secara lisan bukan tulisan. Sifat legenda yang menyebar melalui lisan ke lisan menyebabkan juga legenda seringkali berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain maupun dari satu daerah ke daerah yang lain.

Teks legenda hampir mirip dengan mite, akan tetapi cerita cerita dalam legenda tidak dianggap suci atau tidak disakralkan.  Disakralkan memiliki makna bahwa peristiwa-peristiwa yang termuat dalam teks tersebut mengandung unsur dinamisme maupun animisme yang berujung pada pemujaan/pendewaan terhadap tokoh tertentu yang ada di dalam cerita sampai melakukan ritual yang bersifat animisme oleh yang empunya cerita. Contoh cerita yang disakralkan adalah Mite dari "Nyi Roro Kidul Penguasa Laut Selatan".

Adapun, teks legenda walaupun pada umumnya ditokohi oleh manusia dan adakalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa sebagai suatu keistimewaan pada tokohnya dan seringkali juga dibumbui dengan hal-hal yang ajaib tetapi oleh yang empunya cerita tidak berujung pada pendewaan terhadap tokoh tersebut ataupun melakukan pemujaan/ritual terhap sebuah objek yang disebutkan di dalam cerita.
 

B.   Ciri-ciri Teks legenda

Legenda bisa dikenali dari ciri-ciri sebagai berikut:

1.   Dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita

2.    Bersifat skuler atau keduniawian, yakni tokoh dalam legenda adalah manusia dan kejadian dalam  legenda berada di dunia tempat kita tinggal sekarang

3.    Sejarah kolektif, yakni cerita sejarah yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat, namun sudah mengalami distorsi karena berbeda dari cerita aslinya. Hal ini disebabkan cerita tersebut disampaikan secara lisan.

4.   Berifat migration, legenda tersebut dapat berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya

5.   Bersifat siklus, yakni tokoh dan kejadian yang dialami tokoh terjadi pada zaman tertentu.

 

C.   Struktur Teks Legenda

Pada umumnya struktur teks legenda sama dengan struktur teks naratif, yaitu:

1.    Pengenalan

Struktur Pengenalan biasa berisi mengenai pengenalan tokoh, latar (tempat, waktu, suasana), peristiwa yang diceritakan.

2.    Komplikasi

Bagian Komplikasi berisi mengenai permasalahan yang dialami oleh tokoh

3.    Resolusi

Berisi mengenai penyelesaian atau solusi dari masalah yang dialami oleh tokoh

4.    Koda

Pesan/amanat penulis kepada pembaca

 

D.   Unsur-Unsur Teks Legenda

1.    Unsur-Unsur Interinsik  Teks Legenda

a.    Tema, gagasan dasar yang membangun keseluruhan isi cerita.

b.    Tokoh, para pelaku yang terdapat dalam sebuah cerita. Tokoh dalam cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca.

Pelaku/tokoh yang terdapat dalam cerita dan menempati posisi sebagai pembawa pesan secara langsung maupun tidak langsung kepada pembacanya.Tokoh ini memilki beberapa peran, yakni protagonis, antagonis dan tritagonis.

c.    Alur atau plot, “Rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin sedemikian rupa sehingga menggerakkan jalan cerita dari awal, tengah hingga akhir cerita (Wikipedia bebas)”. 

    Alur terbagi menjadi dua jeni, antara  lain:

1) alur maju/progresif merupakan suatu jalan penceritaan yang bergerak maju ke depan yang didahului dengan pengenalan tokoh, latar tempat, waktu dan suasana untuk membangun cerita kemudian diikuti dengan konflik yang dihadapi tokoh dan berakhir dengan penyelesaian.  Adapun alur penceritaannya dapat digambarkan pada bagan berikut:   

      Tahapan Pengenalan→Tahapan Kemunculan Konflik→Tahapan Konflik Memuncak→Tahapan Konflik Menurun→Tahapan Penyelesaian (resolusi)

       Supaya lebih jelas dapat juga melihat contoh cerpen di bawah ini:


Gadis kecil bernama Marsha yang tinggal dengan ibunya ingin pergi ke hutan untuk mencari jamur. Marsha mulai masuk ke dalam hutan. Tak lama kemudian Marsha tersesat dan menemukan sebuah rumah kecil, yakni rumah seekor beruang. Marsha tak diperbolehkan oleh si beruang untuk pulang ke rumah dan harus terus melayaninya. Marsha berusaha memikirkan cara pulang. Dia membakar kacang polong dan berpura – pura meminta bantuan beruang untuk mengantar kacang polong ke ibunya. Dia memindah kacang polong dan masuk ke keranjang, dan si beruang membawanya ke Desa. Akhirnya Marsha dapat bertemu ibunya kembali.

 (Dikutip dari https://nataprayoga.blogspot.com/2015/09/alur-cerita-alur-maju-alur-mundur-dan.html)

2) Alur mundur/regresi, yakni jalan cerita yang bergerak mundur atau fleshback dengan tahap/alur penceritaan dengan tahapan berikut: penyelesaian→konflik menurun atau Antiklimaks→Konflik Memuncak atau klimaks→Kemunculan Konflik→Pengenalan. Penggunaan alur ini  biasanya berisi cerita flasback/kilas balik tentang kehidupan seorang tokoh. 

contoh cerita:

Lia bercerita kepada Ani tentang pengalamannya di pasar. “Aku mengejar seorang pencuri yang mencuri dompet Bu Laksmi di pasar tadi pagi. Untungnya aku berhasil menangkap si pencuri dan mengembalikan dompet Bu Laksmi. Aku dapat menolong Bu Laksmi dengan cepat karena aku berada di samping Bu Laksmi ketika dompetnya dicuri. Bu Laksmi juga berkata bahwa tadi si pencuri berada di belakang Bu Laksmi ketika ia berangkat ke pasar”, kata Lia.

 (Dikutip dari https://nataprayoga.blogspot.com/2015/09/alur-cerita-alur-maju-alur-mundur-dan.html)

 3) "Alur Maju-Mundur/Campuran adalah "Alur yang diawali klimaks kemudian dimundurkan ke tahapan pengenalan masalah kemudian pengenalan dan berakhir dengan penyelesaian. Alurnya dapat dilihat pada bagan berikut:

Klimaks atau Puncak Konflik→Kemunculan Konflik→Pengenalan→Antiklimaks atau Konflik Menurun→Penyelesaian

Contoh cerita

Suara klakson bersahut-sahutan. Kulirik arloji, hampir jam setengah enam petang. Pantas. Para pengklakson ini pasti perindu rumah. Din...din...Aku maju sedikit. Bukannya tak mau berisik. Aku cuma tak mau pulang cepat. Aku bukanlah seorang perindu rumah. Tes tes... . Gerimis menderas. Sudah dua puluh menit aku dalam perjalanan ini. Aku menepi di bawah pohon tua, hendak memakai jas. “Siapa yang salah? Aku? Iya?” “Ya jelas!” “Jelas apa???” “Kan anak kita ada empat,  Mas!” “Empat??Anak kita cuma tiga!” “Jadi, Mas menyalahkan Rina?” “Ya!!!” “Tapi Rina kan sekarang anakmu juga, Mas” “Rina tidak akan pernah jadi anakku!! “ “Mas jahat!!” teriak ibu sambil berlari. Aku masih dibawah pohon tua ini. Mengapa aku harus pulang ke rumah?? Ahh, Dewi Petir, sambarlah aku sekarang, agar aku bisa mati saat ini juga!!

(cerita diambil dari https://nataprayoga.blogspot.com/2015/09/alur-cerita-alur-maju-alur-mundur-dan.html)

 

Berdasarkan cerita dapat disimpulkan cerita ini menggunakan alur campuran, karena :

 

a) Klimaks : Suara klakson bersahut-sahutan. Kulirik arloji, hampir jam setengah enam petang.

b) Kemunculan konflik: Aku cuma tak mau pulang cepat. Aku bukanlah seorang perindu rumah. 

c) Awal/pengenalan : “Ayah dan ibu Rina bertengkar di rumah”

d) Antiklimaks/konflik menurun : Aku masih di bawah pohon tua ini. Mengapa aku harus pulang ke rumah??

e). Penyelesaian : Ahh, Dewi Petir, sambarlah aku sekarang, agar aku bisa mati saat ini juga !!

 

d.    Latar atau setting, yakni  Latar terbagi menjadi tiga, yaitu gambaran tempat, waktu, dan suasana yang terdapat di dalam cerita.

e.    Sudut pandang,sudut pandang merupakan posisi atau cara pengarang dalam menyampaikan peristiwa-peristiwa yang terdapat di dalam cerita.

g.     Gaya bahasa, merupakan bahasa yang digunakan pengarang dalam bercerita. Adakalanya supaya cerita yang digunakan terasa hidup dan menarik pengarang mengunakan kalimat-kalimat perbandingan maupun majas. Berikut beberapa jenis  majas yang biasa digunakan dalam karya sastra:

1). Personifikasi

Majas personifikasi membandingkan manusia dan benda mati. Gaya bahasa yang digunakan seolah-olah benda tersebut bersikap selayaknya manusia.

Contoh: Laut yang biru seakan menatapku dalam keheningan.

2). Metafora

Majas metafora membandingkan dua objek yang berbeda namun memiliki sifat yang serupa. Kita mengenal gaya bahasa ini sebagai analogi.

Contoh: Sang Raja Siang bersinar dan membawa kehangatan.

3). Asosiasi

Gaya bahasa perbandingan dalam majas metafora ditampilkan secara implisit. Dua objek yang dibandingkan sebenarnya berbeda, tetapi dianggap sama. Keduanya dihubungkan dengan 'seperti,' 'bak,' atau 'bagaikan.'

Contoh: Apa yang telah kamu lakukan itu seperti duri dalam sekam.

4). Hiperbola

Mengekspresikan sesuatu dengan sedemikian rupa sehingga meninggalkan kesan berlebihan itu... lebay. Eh, bukan, Sobat. Itulah majas hiperbola. Gaya bahasa ini digunakan saat kita membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang tak masuk akal untuk disandingkan sebagai perbandingan.

Contoh: Katanya dia berlatih bernyanyi, tapi suaranya bikin pecah gendang telingaku setiap hari.

5). Eufimisme

Saat ada kata yang dirasa kurang etis, kita menggunakan majas eufimisme. Kita menggunakan kata yang lebih sopan dengan makna yang sepadan.

Contoh: Tiba-tiba dia terhenyak dari tempat duduknya dan berlari menuju kamar kecil.

6). Pertentangan

Dalam majas perbandingan, kata kiasan yang digunakan memiliki makna yang berkebalikan atau bertentangan dengan maksud yang sesungguhnya. Berikut ini beberapa majas dan contohnya.

(a). Litotes

Dikenal sebagai lawan dari majas hiperbola, majas litotes mengecilkan atau menyempitkan sebuah ungkapan. Gaya bahasa ini biasanya digunakan untuk tujuan merendahkan diri karena kenyataannya justru tidak seperti yang disebutkan.

Contoh: Ini tanda terima kasih kami, sekedar ongkos angkot.

(b). Paradoks

Adakalanya kita membandingkan suatu fakta dengan sesuatu yang berkebalikan. Saat itulah kita menggunakan majas paradoks.

Contoh: Isi kepalanya begitu bising ketika ia duduk sendiri di ruang keluarga yang begitu sepi.

(c). Antitesis

Ciri khas gaya bahasa ini adalah pasangan kata yang maknanya bertentangan atau berlawanan. Pasangan kata tersebut biasanya diletakkan berurutan.

Contoh: Setiap perempuan itu cantik, tak jadi soal kurus atau gemuk.

7). Sindiran

Gaya bahasa bermajas sindiran bertujuan menyindir perilaku, seseorang, maupun kondisi tertentu. Untuk tujuan tersebut, kita menggunakan kata kiasan. Di bawah ini ragam sindiran majas dan contohnya.

(a). Ironi

Kita menggunakan majas ironi melalui kata-kata yang bertentangan dengan dengan fakta atau kenyataan yang ada. Sekilas kata-kata yang digunakan tampak seperti pujian, tapi tunggu sampai akhir kalimat.

Contoh: Santun sekali perilakunya, bertanya saja pakai teriak-teriak.

(b). Sinisme

Dalam sinisme, kita menyindir secara langsung. Meskipun tanpa memperhalus seperti pada majas ironi, gaya bahasa sinisme tidak dapat serta-merta disebut kasar.

Contoh: Kakakku pelit sekali, tak mau berbagi penganannya denganku.

(c). Sarkasme

Sindiran dalam sarkasme disampaikan secara langsung dan cenderung kasar. Bahkan, sarkasme bisa terdengar seperti hujatan.

Contoh: Kontestan itu suaranya jelek sampai-sampai telingaku sakit dibuatnya.

8) Penegasan

Gaya bahasa ini bertujuan untuk memperkuat pengaruh dan mendapatkan persetujuan pembaca atau pendengar. Sebagian majas dan contohnya ada di bawah ini.

(a). Pleonasme

Majas pleonasme menggunakan kata-kata dengan makna yang sama. Kesan yang diperoleh memang sepertinya kurang efektif, tapi memang sengaja dilakukan agar kita mendapatkan efek penegasan yang diinginkan.

Contoh: Berusahalah berhenti terus mengingat sejarah masa lalu.

(b). Repetisi

Gaya bahasa ini tampak pada pengulangan yang berkali-kali digunakan. Tujuannya sama, pengulangan dilakukan untuk menegaskan.

Contoh: Rumah adalah tempat yang paling nyaman, rumah juga menjadi tempat bernaung dari panas dan hujan.

(c). Retorika

Majas retorika berbentuk kalimat tanya. Sobat tentu sudah tahu bahwa kalimat tanya retorika tak memerlukan jawaban. Iya, tujuan kalimat tanya tersebut memang untuk membuat penegasan.

Contoh: Siapa yang tak ingin kuliah di kampus terbaik?

(d). Paralelisme

Lumrah digunakan dalam puisi, majas paralelisme ditunjukkan oleh pengulangan kata. Meskipun diulang-ilang, definisi kata tersebut tak sama antara satu dengan lainnya. Anafora adalah pengulangan di bagian awal kalimat, sedangkan epifora adalah pengulangan di bagian akhir kalimat.

Contoh:

Cinta itu sabar.

Cinta itu lemah lembut.

Cinta itu memaafkan.

Cinta itu tidak serakah.

Kasih itu penyabar.

Kasih itu tidak pernah marah.

Kasih itu selalu mengerti.

Yang terbaik itu cinta.

Yang terkasih itu cinta.

Yang paling sempurna itu cinta.

Perempuan paling hebat itulah ibuku.

Perempuan yang penuh kasih sayang itulah ibuku.

Perempuan yang penuh pengertian adalah ibuku.

Perempuan paling sempurna adalah ibuku.

(Sumber: https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/jenis-jenis-majas-dan-contohnya-pelajari-yuk-biar-makin-gaul )

f. Amanat, pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca.

2.    Unsur-Unsur Ekstrinsik Teks Legenda

a.    Nilai Budaya, yakni Nilai yang berkaitan dengan dengan budaya/tradisi yang berlangsung di masyarakat

b.    Nilai Agama, yakni nilai yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat spiritual /keagamaan/kepercayaan

c.   NIlai Pendidika, yakni: nilai yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran

d. Nilai sosial, yakni nilai kehidupan yang berkaitan dengan intraksi antarmanusia

e. Nilai psikologis, yakni nilai yang berkaitan dengan kejiwaan/psikologis karakter manusia

f. Nilai historia, yakni nilai yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sejarah

g. Nilai hukum, yakni nilai yang berhubungan dengan permasalahan hukumserta aturan yang terjadi di masyarakat

h. Nilai ekonomi, yakni nilai yang berkaitan dengan perdagangan, status ekonomi/permasalahan ekonomi masyarakat

i. Nilai perjuangan, yaitu nilai yang berhubungan dengan hal yang diperjuangkan oleh manusia.

E. Jenis-Jenis Legenda

Legenda memiliki beberapa jenis antara lain:

1.    Legenda keagamaan merupakan legenda yang menceritakan tentang kehidupan keagamaan. Misalnya seperti cerita wali songo, dll.

2.    Legenda kegaiban merupakan legenda yang menceritakan tentang pengalaman seseorang dengan makhluk gaib. Pada umumnya legenda kegaiban ini untuk meneguhkan kebenaran-kebenaran yang bersifat takhayul atau gaib yang dipercayai oleh masyarakat.

3.    Legenda perorangan yakni legenda yang yang menceritakan tentang tokoh-tokoh tertentu . seperti cerita “Legenda Putri Mandalika”

4.     Legenda Lokal, yakni legenda yang berkaitan dengan asal usul terjadinya nama tempat, dsb. Contoh, legenda "Tangkuban Perahu".

Contoh Teks Legenda 1

Legenda Batu Golog

Amaq Lembain dan Inaq Lembain adalah sepasang suami-istri yang sangat miskin. Mereka dikaruniai dua anak yang masih kecil. Keluarga itu tinggal di Padamara, Nusa Tenggara Barat. Mereka tak punya sawah untuk digarap, tak ada kebun untuk ditanami, juga tak memiliki hewan ternak. Saking miskinnya, terkadang mereka tidak makan seharian. Setiap hari pasangan itu berjalan kaki berkeliling desa, mencari orang yang membutuhkan bantuan mereka.

Suatu hari, seperti biasa Amaq Lembain dan Inaq Lembain pergi mencari pekerjaan beserta kedua anaknya. Setelah seharian berkeliling, akhirnya Amaq Lembain mendapatkan pekerjaan. Ia diminta membetulkan pintu rumah yang rusak. Tinggallah Inaq Lembain yang terus mencari pekerjaan. Sambil menggandeng kedua anaknya, ia mendatangi tiap rumah.

“Permisi Bu, apakah ada yang bisa saga bantu?” tanya Inaq Lembain pada seorang wanita yang sedang menampi beras. Di rumah ibu itu, tampak beberapa wanita sedang menumbuk padi.

Ibu itu memandang sekilas pada Inaq Lembain, “Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Sudah banyak yang membantuku,” jawabnya.

“Tolonglah Bu, kedua anak saya butuh makan. Ibu tak perlu membayar dengan uang, cukup dengan beras saja. Asal anak saya bisa makan, saya sudah senang,” kata Inaq Lembain memohon.

Ibu itu merasa iba. Ia akhirnya memberi Inaq Lembain pekerjaan, yaitu menumbuk padi.

Inaq Lembain berpesan pada kedua anaknya, “Jangan ganggu Ibu ya. Ibu harus bekerja. Kalian duduk saja di sini.”

Anak-anaknya ia dudukkan di atas batu ceper, tak jauh dari tempatnya. Batu ceper itu biasa disebut batu golog. Inaq Lembain mulai bekerja. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, ia tak ingin mengecewakan ibu yang telah memberinya pekerjaan tersebut.

Saat sedang sibuk menumbuk padi, terdengar suara kedua anaknya, “Ibu… Ibu… Iihatlah kami,” panggil mereka. Kedua anak itu memanggil ibunya karena merasa ada keanehan pada batu yang mereka duduki.

Batu itu bergerak naik, semakin lama semakin tinggi. “Sssttt… diamlah, jangan ganggu Ibu!”sahut Inaq Lembain sambil terus menumbuk. Ia tak menoleh sedikit pun pada anak-anaknya.

Batu itu bergerak semakin tinggi. Kedua anak itu sangat panik dan ketakutan. Mereka serentak berteriak lagi, “Ibu… Ibu… batu ini bergerak naik. Kami takut Bu….”

Inaq Lembain tetap tak peduli. Ia pikir anak-anaknya hanya mencari perhatiannga saja. Ia terus melanjutkan pekerjaannya.

 “Ibu… Ibu… tolong… kami ada di atas Bu,” teriak anak-anak itu lagi. Kedua anak itu terus berteriak-teriak, namun Inaq Lembain tetap tak peduli. Lama-kelamaan, suara anak-anaknya itu semakin pelan dan menjauh. Inaq Lembain tak lagi mendengar teriakan anak-anaknya.

“Baguslah, mereka pasti kecapekan. Tidurlah yang nyenyak ta, Nak. Ibu harus menyelesaikan pekerjaan ini,” gumamnya dalam hati.

Inaq Lembain tak mengadari, batu golog telah membawa kedua anaknya ke atas, nyaris menyentuh awan. Setelah Inaq Lembain menyelesaikan pekerjaannya, ia lalu mencari anak- anaknya. Alangkah paniknya ia ketika melihat batu yang diduduki kedua anaknya sudah menjulang ke langit. Ujung batu itu sudah tak tampak, bahkan anak-anaknya pun tak kelihatan lagi. Inaq Lembain menangis kebingungan. Ia memohon pada Tuhan untuk menyelamatkan anak-anaknya.

Dengan bantuan Tuhan, selendang yang dikenakan Inaq, Lembain mampu memenggal batu golog itu. Dengan sekali tebas, batu golog itu pecah menjadi tiga. Namun sayang, meski batu itu sudah pecah, kedua anak Inaq Lembain telah berubah menjadi dua ekor burung.

Si sulung berubah menjadi burung kekuwo, sedangkan si bungsu berubah menjadi burung kelik. Inaq Lembain sangat menyesal, kini kedua anaknya berubah menjadi burung. Meski demikian, ia membawa pulang kedua burung itu dan merawatnya.

Konon kabarnya, ketiga bagian batu golog yang terbelah itu terlempar ke tiga daerah. Lemparan batu golog yang pertama menyebabkan getaran yang sangat dahsyat di Desa Gembong. Bagian kedua batu golog itu terlempar dan jatuh di Dasan Batu. Nama ini diberikan karena ada orang yang menyaksikan saat batu itu jatuh. Batu yang terakhir, terlempar ke daerah yang kemudian dinamakan Montong Teker. Nama ini diberikan karena bagian terakhir batu golog ini menimbulkan suara gemuruh saat mendarat.

Contoh Teks Legenda 2

 

Legenda Doyan Medaran

Dikisahkan Pada zaman dahulu di daerah Lombok selatan pesisir pantai takar-akar tinggallah seorang kyai beserta seorang istrinya. Sang suami namanya Penghulu Alim, dia dipanggil Pengghulu Alim karna dia adalah seorang kyai dan sering diundang  dalam acara perkawinan sekaligus menjadi penghulunya.

Pada suatu hari, penghulu alim diundang keacara kawinan, dan pada saat itu istrinya sedang dalam keadaan hamil, penghulu alim akan pergi beberapa bulan sehingga sebelum berangkat, sang penghulu alim menyerahkan seutas sabuk dan selendang kepada istrinya seraya berkata “ istriku,,, nanti kalau anak kita lahir dan sudah mampu berjalan suruhlah untuk mencariku ditempat acara kawinan itu, dan ikatkan sabuk dan selendang itu sebagai pakaiannya agar aku dapat mengenalinya”. istrinya dengan penuh kelembutan pun menjawab “ baiklah kakak” seraya menyiapkan perbekalan untuk suaminya sang penghulu alim

 

Sepergi suaminya Penghulu Alim, lahirlah Si Kuat Makan(Si Kuat Medaran) dan dirawat oleh sang ibunya seorang. Ketika si kuat medaran sudah menginjak beberapa bulan dia sudah mampu berjalan dengan lincahnya. Namun selama kelahiran dia belum tau siapa dan dimana ayahnya. Akhirnya si kuat medaran  pun bertanya pada ibunya “ibu… dimanakah ayahku?. Kata Si Kuat Medaran kepada ibunya. Ibunya menjawab; ayahmu diundang ke acara kawinan daerah sebelah, “tapi kenapa sampai sekarang belum juga pulang.. Bu?  . Kata si kuat medaran lagi kepada ibunya.Sambil mengelus anaknya ibunya pun menjawab,”mungkin ayahmu sibuk disana, karna banyak undang yang harus dipenuhi, kalau kau mau melihat ayahmu maukah kamu menyusulnya anakku..!. kata ibunya seraya menatap Si Kuat Medaran.“Mau ibu, tapi dimanakah tempat ayah….“berjalanlah desa diutara, nanti kalau kamu menemukan ada acara (begawe), tanyalah kepada warga disana tentang ayahmu Penghulu Alim..” kata ibunya“kalu begitu baiklah buuu…”jawab Si Kuat MedaranAkhirnya dengan perasaan cemas ibunya menyiapkan perbekalan untuk Si Kuat Medaran. Walaupun masih kecil tapi Si Kuat Medaran memiliki kekuatan yang sangat tinggi. 

 

Setelah perbekalan sudah siap si kuat medaran pun berangkat. Selama dalam perjalanan Si Kuat Medaran tidak pernah menemukan suatu halangan yang berarti, walaupun masih kecil namun anak ini memiliki kekuatan yang sangat  tinggi dan anehnya lagi sang anak memiliki kebiasaan makan yang banyak tanpa pernah puas itulah sebabnya dia di juluki Si Kuat Medaran(makan). Sesampai ditempat itu, Si Kuat Medaran bertemu dengan beberapa anak kampung yang sedang bermain-main di luar pagar pembatas dusun itu, dan kebetulan disana kebetulan lagi ada acara kawinan atau begawe (roah ) dalam bahasa sasaknya. Sang anak pun ikut bermain dengan anak-anak itu, namun keanehan terjadi, setiap anak yang disentuh selalu merasakan kesakitan, ada yang nangis. Melihat hal itu ada anak asing yang datang kedusun mereka yang memiliki kekuatan aneh, akhirnya penduduk dusun itu pun membawa Si Kuat Medaran ketempat begawe atau acara itu, dan kebetulan ayahnya ada disana lagi pimpin acara pernikahan itu.

 

Penduduk desa membawa si kuat medaran keberanda atau betaran dan dikasih makan oleh penduduk setempat. Namun si kuat medaran selalu minta makanannya ditambah, penduduk setempat menuruti kemauan si kuat medaran, sampai-sampi persedian makanan untuk tamu yang lain pun habis. Sehingga ditempat inilah dia mulai dipanggil dan dijuluki si kuat medaran (makan). Mendengar ada kegaduhan dengan kedatangan anak masih kecil tetapi makannya tidak pernah kenyang akhirnya sang penghulu alim pun melihatnya dengan penuh penasaran. Dengan raut wajah yang kaget sang penghulu alim terkejut bukan main ketika melihat si kuat medaran itu adalah anaknya sendiri. Sang penghulu alim mengetahuinya dari pakaian dan sabuk yang dipakai Si Kuat Medaran karna itu adalah pemberiannya kepada istrinya dulu ketika sedang hamil.

 

Dengan persaan malu penghulu alim tidak mengakui bahwa itu adalah anaknya sendiri. Penghulu alim pun pamit dan mebawa si kuat medaran untuk pulang kerumahnya menanyakan kepada istrinya apakah benar si kuat medaran itu adalah anaknya.Setelah kejadian ditempat acara begawe itu, penghulu alim jadi sangat membenci si kuat medaran karna dia merasa telah dipermalukan oleh anaknya sendiri sebagai seoarang kyai. Ketika sampai dirumahnya sang penghulu alim pun langsung menemui istrinya kemudian bertanya”“istriku,,,! Panggil sang Penghulu Alim terhadap istrinya.“Yaa suamiku…” jawabnya dengan nada lemah lembut “apakah benar anak ini adalah anak kita” kata Penghulu Alim dengan nada sedikit garangSang istri pun menjawabnya; “yaaa…  emang benar itu adalah anak kita, memangnya ada apa dengan anak kita”Dengan rasa acuh dan angkuh sang penghulu laim pun berkata “dia telah mempermalukan aku, di tempat acara begawe itu, dengan kebiasaan makannya yang tidak puas dan merasa kenyang sampai persedian makanan ditempat itu habis dimakan oleh anak kita itu”Namun si kuat medaran diam tak berkata, walaupun ayahnya memarahinya dan kini sudah membenci dirinya namun dia tetap penurut terhadap ayahnya penghulu alim. 

 

Sang penghulu alim sendiri sangat membenci anaknya sehingga dia berniat membunuh si kuat medaran meski dia adalah anak kandungnya sendiri.Pada suatu hari sang penghulu alim berniat mau membunuh si kuat medaran. Dia mengajak si kuat medaran kesebuah sumur tanpa sepengetahuan istrinya. Sesampainya di sumur itu, sang penghulu alim langsung mengajak si kuat medaran untuk membuang air sumur itu. Tanpa banyak bicara si kuat medaran menuruti ajakan ayahnya meskipun Sang Penghulu Alim sangat membencinya. Akhirnya ketika air sumur sudah mau mengering  sang penghulu pun istirahat dan menyuruh Si Kuat Medaran untuk mengumpulkan ikan-ikan yang ada dalam sumur itu. Sang penghulung pun naik dari sumur itu, dan mencungkil sebuah batu yang sangat besar kemudian digelindingkankan kedalam sumur itu. Si kuat medaran yang lagi asyik mengumpulkan ikan didalam sumur itu pun langsung tertimpa oleh batu yang besar itu. Dengan perasaan puas telah membunuh anaknya yang dibencinya, penghulu alim langsung pulang.

 

Ibunya Si Kuat Medaran sedih dan gelisah semenjak kepergian suaminya dan  si kuat medaran yang  tak pulang-pulang juga. Ketika melihat sang suami penghulu alim sudah pulang sementara Si Kuat Medaran tak kunjung pulang, sang ibu bertanya kepada suaminya itu.

 “suamiku… apakah kau melihat anakmu si kuat medaran” Tanya sang ibu dengan perasaan cemas.

 

Penghulu alim pun menjawabnya dengan jawaban yang singkat dan acuh “ah… tadi aku liat dia di hutan lagi mengejar burung” jawabnya acuh sembari masuk kedalam kamar dan tidur, karena merasa puas telah mampu membunuh si kuat medaranSementara ibunya Si Kuat Medaran gelisah bercampu cemas, karna anaknya tak jua pulang, hingga matahari sudah masuk diperaduannya si kuat medaran masih belum juga pulang kerumah. Dengan perasaan cemas dan berlinang air mata sang ibu duduk diberanda rumahnya menunggu kepulangan anaknya Si Kuat Medaran. Ketika dipertengahan malam sang ibu yang lagi duduk sedih menunggu anaknya dikejutkan dengan kedatangan anaknya Si Kuat Medaran dengan membawa batu dipundaknya yang begitu besar seraya berkata;

“ibu… ibuuuu… dimanakah  aku taruh batu besar ini”

 “Oohh taruhlah disana anakku” jawab ibunya dengan perasaan kaget campur senang karna anaknya sudah kembali.Si Kuat Medaran pun membanting batu itu hingga terjadinya gempa disekitar rumahnya. Sementara Penghulu Alim yang lagi nyenyak tidur kaget dengan adanya gempa , dia langsung keluar rumah. Dan yang lebih mengagetkan dan membingungkan adalah pulangnya Si Kuat Medaran sambil membawa batu besar yang dia gunakan untuk membunuhnya tadi siang.  

 

Konon batu itu sampai sekarang di sebut batu penyenger (yaitu batu dari sifat marah campur kesal dai penghulu alim Melihat kejadian ini,  lagi- lagi Penghulu Alim semakin berniat untuk  membunuh anaknya. kemarin dia gagal membunuhnya dengan menimpakan batu besar, kali ini penghulu alim berencana untuk mengajaknya  menebang pohon dihutan. Tapi Kali ini Penghulu Alim meminta izin kepada istrinya,,, untuk mengajak si kuat medaran untuk menebang pohon di hutan. Tanpa berpikir dan merasa mau dibunuh si kuat medaran pun menuruti ajakan ayahnya, begitu juga ibunya pun mengizinkannya.Akhirnya keesokan harinya, ketika matahari mulai menyongsong sang ibu menyiapkan bekal seadanya dan peralatan untuk suami dan anaknya Si Kuat Medaran.

 

Si Kuat Medaran dan ayahnya Penghulu Alim pun berangkat kehutan. hutan yang dipilihnya adalah hutan yang punya pohon-pohon yang besar. Setelah menemukan sasaran yang tepat dan pohon yang besar dan tinggi, penghulu alim pun langsung memulai untuk menebang pohon ini, sementara Si Kuat Medaran disuruh untuk istirahat dulu. Beberapa waktu kemudian penghulu alim sudah kelelahan, dia pun menyuruh anaknya si kuat medaran untuk melajutkannya. Setelah selang beberapa waktu pohon pun sudah punya tanda-tanda mau tumbang, dengan cepat penghulu alim menggantikan Si Kuat Medaran kemudian menyuruhnya untuk duduk ketempat dimana arah pohon itu akan tumbang. Tanpa berkomentar Si Kuat Medaran pun menuruti saja kemauan ayahnya. Ketika Si Kuat Medaran duduk ditempat yang disuruhnya sang Penghulu Alim melanjutkan untuk menebang pohon itu yang sudah mau tumbang. Dengan cepat  tumbanglah pohon itu tepat dimana si kuat medaran duduk. Karna besarnya pohon ini Si Kuat Medaran pun belum sempat untuk menghindar dan tertimpa oleh pohon ini hingga tidak berkutik. Lagi-lagi penghulu alim pulang dengan perasaan senang karna usahanya untuk membunuh si kuat medaran pun berhasil. 

 

Sesampai dirumah sang ibu pun bertanya kepada suaminya,,,Kakanda suamiku,,, kemana anakmu Si Kuat Medaran. Kenapa dia tak pulang bersamamu…???Penghulu alim ; “anakmu masih asyik bermain-main dihutan tadi, sudah aku ajak pulang tapi tidak mau….!!Seperti hari-hari sebelumnya sang Penghulu Alim pun masuk kedalam kamar rumahnya. Sementara ibunya si kuat medaran mencemaskan anaknya.  Malam sudah tiba, tapi si kuat medaran tak juga ada yang pulang. Ibunya sedih campur gelisah menanti kepulangan anaknya diteras rumah. Dengan cara sebelumnya, ketika dipertengahan malam, si kuat medaran pun pulang dengan membawa pohon besar beserta ranting-rantingnya kerumahnya. “Ibu,,,, ibu,,, ayah… dimanakah aku menaruh pohon ini???” ,,,kata Si Kuat Medaran“Taruhkan saja disana anakku…” jawab sang ibu dengan senang karena anaknya telah kembali, namun dia kaget dan bingung dengan tingkah anaknya yang bisa membawa batu besar dan pohon yang besar. Sementara sang penghulu alim semakin menbenci kelakuan Si Kuat Medaran. Namun si kuat medaran masih menuruti kemauannya.

 

Setelah kejadian itu sang Penghulu Alim semakin membenci anaknya si kuat medaran, namun Si Kuat Medaran tetap menuruti kemauan ayahnya. Sang penghulu alim bingung dengan cara apa untuk melenyapkan anaknya itu. Sehingga kali ini dia berpikir untuk mengusirnya tanpa sepengetahuan ibunya. Si kuat medaran pun menuruti kemauan ayahnya sehingga dia pun pergi kearah barat di wilayah Poret yaitu salah satu dusun kecil didaerah pesisir pantai. Setelah beberapa lama tinggal ditempat itu, dengan kelakuannya yang kalau makan tak pernah kenyang membuat masyarakat di didusun Poret ini enggan untuk mengasihnya makan. Pada suatu waktu si kuat medaran merasa lapar sekali, dan meminta makanan pada penduduk. Sehingga salah satu warga yang memiliki sebuah lumbung padi yang mau mengasihnya makan tapi dengan memberi satu syarat. Orang ini akan memberi makan apabila Si Kuat Medaran mampu mengangkat lumbung padi miliknya dan jika bisa mengangkatnya, dia boleh membawa pulang lumbung padi itu. tanpa banyak komentar si kuat medaran menuruti syarat itu. Dengan kesaktian yang dimilikinya dia mengangkat lumbung itu, dan bergegas pulang. Sementara orang itu tercengang kaget melihat kejadian itu, dia merasa menyesal telah meremehkan Si Kuat Medaran.Sambil membawa lumbung padi beserta isinya, Si Kuat Medaran pulang kerumahnya. Ibunya sudah lama menunggu kepulangannya. Sesampai dirumahnya, Sang Penghulu Alim dan sang ibu kaget dengan anaknya itu. Kali ini sebuah lumbung yang dibawa pulang. Sang penghulu alim melihat kepulangan Si Kuat Medaran, semakin membencinya dan semakin kesal terhadapnya. Dengan segala usaha untuk melenyapkan si kuat medaran namun selalu gagal.

 

Kini Si Kuat Medaran sudah tumbuh dewasa, namun ayahnya tetap membencinya. Tak ada rasa kasih saying yang diberikan ayahnya untuknya. Ayahnya berharap tidak mau melihatnya. dengan itulah Si Kuat Medaran merasa harus pergi jauh dari hadapan ayah untuk selamanya. Dia pun berbicara kepada ibunya dan menjelaskan tentang ayahnya yang selama ini membencinya dan tak pernah mengangganya sebagai anaknya. Si kuat medaran meminta izin dan restu ibunya untuk pergi jauh mengembara untuk selamanya. Walupun berat hati walau ibu maupun si kuat medaran namun tidak pilihan lain baginya kecuali pergi. Sang ibu dengan berat hati mengizinkan anakmya itu.

 

Keesokan harinya sang ibu  menyiapkan perbekalan untuk anaknya Si Kuat Medaran dengan seadanya. Sang ibu menyiapkan tujuh buah ketupat, satu pisau kecil dan moto siu (adonan dari beras merah yang dicampur parutan kelapa).ibunya menyediakan pisau untuk membelah ketupatnya. Setelah perbekaln sudan siap si kuat medaran pun berpamitan kepada ibunya dan juga ayahnya penghulu alim. Dengan menangis sang ibu memeluk anaknya erat-erat karna ini adalah pelukan terakhir untuk anaknya itu, sedangkan sang penghulu tetap biasa saja, ,malah dia senang sekali atas kepergian Si Kuat Medaran.

            Seusai berpelukan Si Kuat Medaran pun berangkat dan pergi mengembara kearah timur.Selama dalam pengembaraannya dia bertemu dengan dua seorang pemuda yaitu Seger Penyalin dan Kambing Moter. Dengan kedua sahabatnya itu dia jalani hari-harinya dan melawan jin-jin maupun seorang raksasa yang menggangunya sampai mereka bertemu dengan tiga orang gadis. Salah satu gadis itu berpakaian kotor karena dilumuri lumpur. Merka sangat menginginkan seorang untuk menemaninya selama dalam pengembaraannya. Mereka pun melakukan undian siapa yang menang dia yang dapat yang paling cantik. Namun Si Kuat Medaran selau kalah dan dengan terpaksa dia mendapatkan gadis yang kotor itu. Namun Si Kuat Medaran sangat terpesona akan kecantikan gadis itu setelah gadis itu membersihkan dirinya. Dia terlihat berbeda dari sebelumnya.

            Tidak hanya Si Kuat Medaran yang terpana melihatnya, seger penyalin dan kambing moter pun melihatnya tanpa berkedip dan merasa iri terhadap si kuat medaran. Malah mereka ingin mengulangi undian itu.

https://catatanlombok.blogspot.com/2018/01/cerita-rakyat-sasak-doyan-medaran-doyan.html

 

Legenda 3 

 LEGENDA CUPAK GERANTANG

Cupak Gerantang/Cupak Gurantang, kisahnya  dimulai dari kerajaan Budha Daha yang berkembang pada sekitar abad ke IX Masehi. Kerajaan Daha merupakan kerajaan Budha yang pernah ada di pulau Lombok. Pusat kerajaan ini bearada di wilayah Bayan Barat yang sekarang menjadi Desa Senaru. Kerajaan Daha dipimpin oleh seorang raja yang dikenal dengan nama Datu Daha. Datu Daha didampingi oleh dua orang patih yang sakti mandar guna, mereka adalah Patih Mangku Bumi dan Patih Mangku Negara. Datu Daha juga memiliki seorang putri yang sangat cantik, putrinya itu bernama Dewi Sekar Nitra. Diceritakan bahwa Datu Daha tidak pernah member Dewi Sekar untuk main-main di luar istana dan ketika Denda Sekar Nitra sudah menginjak usia remaja, ia ingin sekali bermain-main di taman istana. Untuk itu, Denda Sekar Nitra meminta kepada ibunya, supaya ia diberikan izin untuk bermain-main di taman kerajaan Daha yang konon sangat indah. Tetapi, sang Nata Daha tidak berani member izin kepada anaknya, sebelum ia terlebih dahulu diizinkan oleh Datu Daha. Ahirnya sang Dewi Nata Daha membawa anaknya untuk menghadap kepada Datu Daha. Sesampai di depan sang perabu, Dewi Sekar Nitra langsung meminta kepada ayahandanya. “…Mamiq mangkin tiang owah beleq tiang melet bekedek jok taman kerajaan kanca inak umbaktiang..” (Ayahanda sekarang saya sudah besar, saya berkeinginan untuk bermain-main ke taman kerajaan bersama ibuasuh saya). Kemudian Datu Daha mengizinkannya untuk pergi dengan dikawal oleh Patih Mangku Bumi dan Mangku Negara.

 

Pada saat itu sang Datu Daha berpesan kepada kedua patihnya untuk menjaga sang putri dengan baik dan kedua patih tersebut berjanji akan menjaganya sampai darah penghabisan. Setelah mendapat izin dari Datu Daha dan dikawal oleh kedua orang Maha Patih kerajaan Daha maka berangkatlah sang Dewi Sekar Nitra ke taman kerajaan Daha bersama ibu asuhnya yang bernama Inaq Kasih. Sesampainya di taman istana, sang Dewi merasakan kebahagiaan yang tiada terhingga dan saking bahagianya Dewi Sekar Nitra berlari-lari kesemak-semak sambil menikmati pemandangan taman yang sangat indah di bawah siraman cahaya purnama.

 

Tiba-tiba terdengar suara yang sangat besar seperti terjadi gempa bumi dan suara halilintar. Wong Lanang…dedemit ranged melet mangan…ambun wong anak manusia…. Suara itu adalah suara seorang raksasa (Ganadawa). Raksasa itu berkata dengan sesumbar “Wong lanang sire hilai (siapa kamu)” dan kedua patih Datu Daha menjawabnya “aku adalah patih Mangku Negara dan Mangku Bumi sebagai pelindung Dewi Sekar Nitra putri tunggal sang Datu Daha”.

Hahahaaa……. Aku ne raksasa paling hebat eleq gumi sesene. Endeknarak spook manusia-pin sik bau membalaq kemeleq ku… hahahaaa… kata raksasa itu dengan geram sambil menatap Dewi Sekar Nitra yang jelita.

Beterus apa jaq kemeleq meq raksasa lenge…. Jawab Patih Mangku Bumi dengan tegas.

Ambun wong anak manusie,,, hahahaaaa, meleng ku Dewi Sekar Nitra. Meleng ku jauk ye jari pendamping ku lek dalem goa…. Jawab sang raksasa dengan bangga.

Hahahaaaa…. Endek mek cocok gin jari pendamping Dewi Sekar Nitra raksasa bodo… nie dengan solah enges, beterus kamu jak dengan lenge. We…. endak gamak berimpi lalok raksasa lenge. Ucap Patih Mangku Bumi sambil menertawai raksasa tersebut.

 

Raksasa itu geram mendengar perkataan Mangku Bumi dan Mangku Negara dan ia menyerang dengan garangnya. Akhirnya terjadilah pertempuran yang sangat sengit antara kedua patih itu dengan sang raksasa. Dalam pertarungan itu sang raksasa (Gendawa) dapat mengalahkan kedua patih kerajaan Daha karena bau raksasa yang melebihi bangkai. Setelah Patih Mangku Bumi dan Patih Mangku Negara dikalahkan maka sang raksasa membawa Dewi Sekar Nitra ke tengah hutan, sedangkan Inaq Kasih pingsan di tengah taman sebab ia merasa ketakutan melihat sosok raksasa tersebut.

Patih Mangku Bumi dan Patih Mangku Negara pulag ke kerajaan Daha Negara untuk melaporkan kejadian yang telah menimpanya kepada Datu Daha. Sambil menagis rakaian Mahapatih tersebut menghadap kepada Datu Daha dan sesampainya di depan Datu Daha mereka ditanya “..ada apa rakaian Maha Patih, kenapa kalian menagis, mana putri ku…” Tanya sang raja dengan tegasnya. Kemudian mereka mulai menceritakan bahwa sang Dewi Sekar Nitra dibawa oleh seorang raksasa (Gendawa). Sang Datu Daha sangat kaget mendengar laporan itu, sampai-sampai beliau menagis karena putri kesayangannya hilang.

 

Datu Daha sangat marah dan kecewa kepada kedua orang patihnya, lalu penuh kemarahan ia bertitah “…Rakaian Mahapatih, sekarang kalian aku utus untuk mencari orang yang dapat mengalahkan makhluk raksasa yang membawa putri kesayangan ku Dewi Sekar Nitra dan jika orang tersebut dapat membawa sang putri pulang dengan selamat maka orang tersebut akan aku beri hadiah yang sangat beasar yaitu setengah dari kerajaan ini dan ia juga akan aku kawinkan dengan sang putrid, serta kelak Ia akan mengganti akau menjadi raja di bumi Daha ini…”.

Mendengar titah dari rajanya kedu patih tersebut berangkat untuk mencari orang yang bisa mengalahkan raksasa dan membawa pulang sang Dewi Sekar Nitra dengan selamat. Selama berhari-hari, berminggu-minggu bahkan hingga berbulan-bulan kedua patih tersebut keluar masuk hutan dan kampung untuk mencari pendekar yang berani melawan raksasa yang memebawa putrid raja, namun mereka tidak juga menemukannya.

 

Sementara itu di tengah hutan belantara dua orang pemuda sedang melakukan pengembaraan dan pada suatu hari pemuda ini bertemu di tengah hutan yang sangat lebat. Konon hutan itu adalah hutan adat Senaru saat ini. Kedua pemuda tersebut adalah Cupak dan Gurantang. Konon Cupak berjalan dari arah utara dan Gurantang berjalan dari arah selatan.

Hey..apakah engkau manusia atau jin…?, kata Cupak sambil menunjuk Gurantang.

Aku ini manusia, siapakah engkau ?. Tanya Gurantang dengan suara lembut.

Aku pengembara yang tidak memiliki sanak saudara… Jawab Cupak.

Aku juga begitu saudara….siapa nama mu..?

Panggil saja aku Cupak, lalu siapa kamu ?

Panggil saja aku Gurantang…

Kalau begitu kamu sebenarnya mau kemana dan mencari apa Gurantang..?

Aku tidak punya tujuan…dan aku hanya mengikuti langkah kaki ku…maukah engkau jika kita menjalin persaudaraan… Tawaran Gurantang.

Baiklah kalau begitu mulai sekarang kita bersaudara, aku kak dan kamu adik ku sebab aku lebih besar dari pada kamu. Jawab Cupak menyetujui permintaan Gurantang.

Bagus kalau begitu dan sekarang kita maukeman kak Cupak..?

Kita berjalan saja menyusuri pawing ini, hingga kita temukan perkampungan. Ajak si Cupak.

Dengan demikian, mulai dari saat itu mereka berjalan bersama-sama menyusuri hutan belantara. Pada suatu hari di sesampainya di Pawang Bening (tanah tandus) di Bayan sebelah utara). Raden Cupak merasa lapar lalu Ia berkata kepada Gurantang.

“…oh adik ku Gurantang sekarang kaka mu merasa lapar sekali. Di sana kelihatan kepulan asap, mungkin di sana ada sebuah perkampungan maka tolonglah kakak mu. Tolong carikan kakak mu ini nasi mungkin di sana ada orang yang tinggal…”.

Gurantang menjawab “…coba saja kakak yang pergi karena kakak memiliki badan yang besar jadi jika nanti ada anjing hutan ataupun binatang buas lainnya yang menyerang, kakak bisa melawannya dan jika aku yang pergi jangan-jangan aku yang menjadi makanan serigala dan hewan buas lainnya…”.

Maka berangkatlah Cupak menuju tempat mengepulnya asap tersebut, hingga akhirnya sampailah Ia di sebuah rumah yang konon rumah tersebut adalah milik Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol yaitu sepasang suami istri yang tinggal di dalam kawasan Pawang Bening. Setelah Si Cupak sampai di rumah Inak Bangkol, Ia tidak mendapatkan apa-apa karena keangkuhan dan ketidak sopanannya. Cupak kemudian kembali menemui adiknya dan menyuruh adiknya untuk pergi ke rumah yang ditemukannya tadi.

 

Akhirnya Gurantanglah yang pergi ke rumah tersebut untuk meminta makanan dan dengan kesopanannya maka Raden Gurantang mendapatkan nasi untuk menyambung hidup bersama kakaknya. Setelah mendapatkan nasi dari Inaq BangkolGurantang membawa nasi tersebut kepada kakanya. Sesampainya di tempat kakanya menunggu, Ia disuruh lagi untuk mengambil air ke sungai dan di sinilah niat jahat Cupak mulai kelihatan. Ketika adiknya sedang mengambil air ke sungai Ia menghabiskan nasi itu sendirian dan pura-pura tidur.

 

Setelah adiknya kembali membawa air Ia pura-pura tertidur lelap dan Gurantang membangunkannya. Cupak pura-pura tersentak bangun dan berkata “He..Gurantang kalau kamu sudah dapat airnya ayo kita makan bersama-samaKakak sembunyikan nasinya di sebelah sana…” dan merekapun bergegas mencari nasi tersebut namun nasi yang mereka cari sudah tidak ada. Dengan kelicikannya Cupak menuduh Gurantang memakan nasi tersebut padahal yang menghabiskannya adalah dia sendiri. Ahirnya merekapun terlibat dalam pertengkaran. Namun, dengan kecerdikan dan kelicikannya lagi-lagi Cupak membuat sandiwara, Ia mengatakan bahwa nasi tersebut kemungkinan dimakan oleh anjing.

Setelah itu Cupak dan Gurantang melanjutkan perjalanan menyusuri hutan belantara dan tibalah mereka di sebuah jalan yang menuju kerajaan Daha Negara, di sana mereka bertemu dengan Patih Mangku Bumi dan Mangku Negara yang sedang mencari orang yang berani melawan raksasa.

Patih Mangku Bumi bertanya kepada Cupak “…kalau boleh saya bertanya kalian ini manusia ataukah raksasa…” pertanyaan ini dilontarkan oleh Patih Mangku Bumi karena melihat sosok Cupakyang sangat tegap besar dan berwajah jelek. Mendengar pertanyaann itu Cupak sangat marah sekali dan hampir bertengkar dengan kedua patih tersebut. Lalu, Kedua patih tersebut menawarkan kepada mereka (Cupak dan Gurantang) untuk mencari Dewi Sekar Nitra yang dibawa oleh raksasa seraya menawarkan hadiah seperti yang disebutkan oleh Datu Daha.

 

Mendengar tawaran tersebut, Cupak sangat tergiur dan mengatakan bahwa ia sanggup untuk melawan raksasa yang membawa Dewi Sekar Nitra. Namun dengan bijaknya Gurantangmemperingati kakaknya “…Kakak ku yang aku sayangi janganlah engkau mengucapkan kebohongan sebab kebohongan akan membawa kita kepada kecelakaan, bukankah engkau tidak memiliki ilmu kedikjayaan dan bagaimana kakak akan mengalahkan raksasa yang besar dan sakti, jadi sebaiknya kakak jangan menyanggupi mahapatih sebab mereka adalah utusan raja dan nanti jika kita tidak bisa mengalahkan raksasa tersebut maka kita akan dicap sebagai orang yang bohong…”.

Mendengar peringatan itu, Cupak sangat marah kepada Gurantang.

“..Gurantang kamu diam saja ! kamu tidak tahu apa-apa, yang penting kita senag dan dapat makan enak kamu ikut saja…”

Mendengar perkataan kakaknya maka Gurantang ikut saja dan akhirnya mereka dibawa ke istana Kerajaan Daha Negara oleh kedua patih tersebut.

Setibanya di istana, Cupak dan Gurantang langsung dibawa menghadap kepada Datu Daha.

Datu Daha bertanya kepada mereka,

 

“…benarkah kalian berani melawan raksasa yang telah menculik putriku..?”

dengan angkuhnya Cupak menjawab “…betul gusti prabu saya yang akan membunuh raksasa tersebut. Tetapin sebelum kami pergi mencari raksasa itu saya butuh makan supaya saya punya tenaga untuk melawan raksasa. Masakkan saya nasi sebanyak satu ton dan saya minta satu pucuk keris untuk melawan raksasa itu…”. Sedangkan Gurantang hanya bisa mengangguk-angguk mendengar perkataan saudaranya.

 

 Datu Daha langsung memerintah para pelayannya untuk memasakkan kedua tamu kehormatannya. Datu Daha juga memberikan sebilah keris sakti kepada Cupak. Di sinilah kelihatan rakusnya Si Cupak, semua orang terheran-heran melihat kerakusannya. Setelah itu Ia berangkatlah mereka (Cupak dan Gurantang) mencari raksasa dengan dikawal oleh Patih Mangku Bumi dan Mangku Negara bersama para perajuritnya.

 

Mereka di kawal hingga perbatasan kerajaan, Cupak dan Gurantang dilepas memasuki hutan belantara. Konon setelah berminggu-minggu menyusuri hutan maka bertemulah mereka dengan raksasa yang membawa Dewi Sekar Nitra.

 

Dari arah yang tidak diketahui terdengar suara yang sangat besar dan menggelegar. Suara itu adalah suara raksasa yang menyembunyikan Dewi Sekar Nitra di dalam sebuah sumur tua di tengah hutan belantara itu. Mendengar suara yang begitu keras, Cupak berlari terkencing-kencing dan mengajak Gurantang untuk meninggalkan hutan belantara.

 

Gurantang-pun memperingati kakaknya “…sudah saya katakana kaka tidak boleh sombong, lihat buktinya sekarang baru mendengar suaranya saja kakak sudah terkencing-kencing apalagi kalau sudah melihat sosoknya. Kalau begitu aku tidak mau dikatakan sebagai pembohong oleh Datu Daha dan jika tugas ini tidak kita lanjutkan maka kita akan dihukum oleh Datu daha…

 

Mendengar perkataan saudaranya, Cupak langsung menjawab “…kamu saja yang melananjutkannya biar akau pulang sendirian…”. Namun, karena takutnya maka Cupak mengikuti Gurantang. Ia tidak berani pulang sendiri. Beberapa lama kemudian, tiba-tiba saja sosok raksasa yang sangat besar dan seram keluar dari tengah-tengah hutan belantara dan Cupakpunmemberanikan diri melawan raksasa tersebut. Tetapi tidak begitu lama Cupak dikalahkan oleh raksasa tersebut dan akhirnya Cupakberlari terkencing-kencing.

 

Melihat kakanya dikalahkan oleh raksasa itu, Gurantang langsung menyerang raksasa tersebut. Pertarungan berjalan dengan sengit dan akhirnya raksasa tersebut terjatuh dan pingsan karena terkena kesaktian Gurantang. Melihat situasi yang begitu menguntungkan maka Cupak maju dan membunuh raksasa yang sudah pingsan itu dengan keris yang dibawa dari kerajaan Daha.

 

Selanjutnya mereka berunding untuk menyepakati siapa yang akan turun ke dalam sumur tempat Dewi Sekar Nitra disembunyikan oleh raksasa. Karena alasan Cupak terlalu besar dan berat untuk diturun naikkan dengan tali maka Cupakmenyuruh adaiknya untuk turun dan dia di atas yang akan menarik tali dan menaikkan sang putrid. Ssetelah itu Gurantangturun ke dalam sumur yang sangat dalam dan gelap. Di dalam sumur tersebut, Gurantang menemukan sosok perempuan cantik yang sedang bersimpuh penuh rasa ketakuta. Sosok itu adalah Dewi Sekar Nitra.

 

Gurantang langsung memperkenalkan dirinya kepada Dewi Sekar Nitra dan mengajaknya keluar dari sumur tua itu. Gurantangkemudian berteriak member tahu Cupak supaya bersiap-siap untuk mengangkat dan mengeluarkan Dewi Sekar Nitra dengan tali yang sudah disediakannya. Mendengar adaiknya sudah bertemu dengan sang putri maka timbullah niat jahat Cupak untuk membunuh adiknya dan dengan liciknya Ia berkata “…Gurantangnaikkan dulu sang putri baru kamu yang aku keluarkan belakangan…”, mendengar perkataan kakanya maka Gurantangtidak memikirkan apa-apa dan dia juga tidak pernah menduga bahwa kakanya akan berniat jahat. Dewi Skar Nitra kemudian dinaikkan terlebih dahulu.

 

Setelah Dewi Sekar Nitra sampai di atas maka Cupak mulai melakukan rencana jahatnya. Dia berkata “…jika Gurantang aku naikkan maka aku tidak akan dapat apa-apa, aku tidak akan dapat mengawini putri cantik ini sebab aku adalah orang yang jelek sedangkan Gurantang adik ku adalah orang yang sakti, pintar, jujur dan tampan maka pastilah dia yang akan mewarisi Daha Negara, lebih baik aku bunuh saja Gurantang di dalam sumur ini…”,

 

Cupak-pun menimbun sumur tersebut dengan batu dengan niat supaya adiknya Gurantang mati. Setelah sumur tua itu tertimbun batu, Cupak meninggalkannya begitu saja sambil memboyong Dewi Sekar Nitra ke luar dari hutan belantara menuju kerajaan Daha Negara. Sesampainya di istana, Cupak langsung dipertemukan dengan Datu Daha dan melaporkan bahwa dia-lah yang telah menyelamatkan Dewi Sekar Nitra dari cekeraman raksasa. Pada kesempatan itu, Datu Daha menanyakan tentang keberadaan Gurantang, mengapa dia tidak ikut ke istana dan Cupak mengatakan bahwa Gurantang adalah seorang penghianat dan pengecut. Ia mengatakan bahwa Gurantang melarikan diri saat diserang oleh raksasa dan kemudian ia jatuh ke jurang dan tertimpa oleh batu.

Mendengar pengakuan Cupak, sang putri langsung menyanggah dan berkata bahwa yang menyelamatkan dia adalah Gurantangdan Cupaklah yang menimbun Gurantang dengan batu di dalam sumur namun dengan kelicikannya Cupak mengeluarkan berbagai alasan yang dapat mengelabuhi raja.

Dengan penuh kemarahan Cupak berkata “…Gusti Prabu jika engkau tidak percaya dengan cerita saya ayo adu saya dengan keda patih mu biar di sini saya perang tanding membuktikan kesaktian saya…

Akhirnya raja percaya bahwa Cupak memang benar-benar menyelamatkan Dewi Sekar Nitra. Karena putrinya sudah dibawa kembali dalam keadaan selamat, maka Datu Daha segera mempersiapkan pesta untuk membayar janjinya dan sekaligus akan mengawinkan Sekar Nitra dengan Cupak, serta akan segera menobatkannya sebagai raja Daha Negara.

Sementara itu dengan kekuasaan Tuhan, Gurantang bisa keluar dari dalam sumur yang pengap itu. Konon setelah keluar dari sumur Raden Gurantang melanjutkan perjalanan sampai ke kerajaan Daha Negara. Setibanya di alun-alun kerajaan Daha, Gurantang mengakui dirinya dan ingin bertemu dengan Datu Daha. Akhirnya dia bertemu dengan Patih Mangku Bumi dan Mangku Negara. Karena percaya akan perkataan Cupak maka kedua patih kerajaan Daha ini membunuh Gurantang dan mayatnya dibuang ke sungai.

 

Pada saat itu sebenarnya Gurantang pingsan namun kedua patih tersebut menganggapnya sudah mati. Gurantang yang dibuang ke sungai ditemukan oleh sepasang suami istri yang sedang menagkap ikan di muara sungai. Suami istri itu adalah Inaq Kasian dan Amaq Kasian. Merekapun membawa tubuh Gurantang yang sudah lunglai ke rumah mereka, di sana Gurantang dirawat dan dianggap sebagai anak mereka sendiri hingga Gurantang sembuh dari lukanya.

 

Pada suatu hari Inaq Kasian mendapat berita bahwa di kerajaan Daha ada Gawe Beleq (pesta besar-besaran), dimana Datu Daha akan menikahkan Dewi Skar Nitra dengan Raden Cupak. Pada saat itu diadakan acara tari perisean di halaman kerajaan Daha dan belum ada yang berani melawan Cupak untuk bermain prisean, Gawe Beleq itu diadakan selama sembilan hari sembilan malam.

 

Mendengar kabar tersebut maka Inaq Kasian mengajak Gurantang pergi mengikuti Gawe Beleq yang diselanggarakan oleh raja mereka, konon sesampainya di kerajaan Daha Cupakbelum mendapatkan tandingan untuk perisean dan pada saat itu Cupak sesumbar. Apabila ia dapat dikalahkan oleh seseorang maka dia akan menyerahkan jabatan sebagai calon suami Dewi Sekar Nitra dan sekaligus pewaris tunggal kerajaan Daha Negara.

 

Akhirnya Gurantang maju dan memasuki arena perisean untuk melawan kakanya yang beberapa waktu lalu meninggalkannya di dalam sumur. Melihat kehadiran Gurantang,  Cupak mersa ketakutan dan dia segera bertanya kepada Inaq Kasian yang dilihat membawa Gurantang

“…dari mana ibu temukan anak itu ?...”

 

Inaq Kasian menceritakan tentang Gurantang, tetapi maun tidak mau Cupak harus melawan Gurantang karena dia tidak mau malu di depan semua orang, karena dialah yang menantang terlebih daulu. Maka terjadilah pertempuran sengit di medan perisean dan dalam beberapa saat Gurantang dapat mengalahkan kakanya. Setelah melihat Gurantang, Dewi Skar Nitra langsung berteriak menagtakan inilah pasangan saya kepada semua orang yang ada di sana.

 

Kemudian Dewi Sekar Nitra menceritakan kepada semua orang bahwa yang menyelamtkannya adah Gurantang bukan Raden Cupak. Mendengar pernyataan Dewi Sekar Nitra maka Cupaklangsung dikepung oleh perajurit Daha karena dianggap sebagai pembohong. Saat Cupak akan dibunuh, maka Gurantang yang bijak dan baik hati menangis dan memohon kepada raja Daha suapaya kakaknya jangan dibunuh. Cuapk-pun diberi ampun dan kemudian dibuang jauh dari istana, sedangkan Gurantanglangsung diangkat menjadi pengganti raja di kerajaan Daha Negara sekaligus mengawini Dewi Sekar Nitra.

 

(diambil dari https://lombok2jalan.blogspot.com/2016/12/cupak-gerantangcerita-rakyat-sasak.html)

 

Referensi: 

Bahan Ajar Kurikulum Muatan Lokal. DIKBUD. 2018

https://www.dosenpendidikan.co.id/legenda

Wikipedia.org

https://catatanlombok.blogspot.com/2018/01/cerita-rakyat-sasak-doyan-medaran-doyan.html

      https://lombok2jalan.blogspot.com/2016/12/cupak-gerantangcerita-rakyat-sasak.html

 https://nataprayoga.blogspot.com/2015/09/alur-cerita-alur-maju-alur-mundur-dan.html

     https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/jenis-jenis-majas-dan-contohnya-pelajari-yuk-biar-makin-gaul

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEMBANG SASAK

SEJARAH SASAK