TEKS ANEKDOT
TEKS ANEKDOT
Kebijakan-kebijakan pemerintah seringkali menjadi bahan perbincangan hangat dan tidak sedikit mengundang kritikan masyarakat yang berujung demonstrasi besar-besaran. Namun demikian, banyak pula kritikan tersebut disampaikan secara halus tanpa menimbulkan emosi berlebihan bagi pihak yang dikritik. Salah satu bentuk kritikan/sindiran halus itu dikemukakan dalam bentuk teks anekdot.
Teks anekdot merupakan salah satu jenis teks yang berisi kritikan/sindiran/pembelajaran yang dikemas dalam bentuk cerita singkat dan menarik yang seringkali mengundang tawa pembaca. teks anekdot bukanlah lelucon semata, karena selain tujuannya menghibur juga untuk menyampaikan pembelajaran maupun kritikan terhadap penyimpangan/fenomena yang terjadi di masyarakat.
Teks anekdot memiliki beberapa struktur yang membedakannya dengan genre teks naratif yang lain. Jika biasanya genre teks naratif ditemukan memiliki struktur konflik/masalah, maka dalam struktur teks anekdot pun diisi pula oleh konplik yang selanjutnya disebut krisis. Akan tetapi, krisis yang terdapat dalam teks anekdot tergolong unik, karena seringkali krisis dalam teks anekdot bersifat konyol/aneh dan tidak jarang mengundang tawa. Berikut dijabarkan masing-masing pembangun struktur teks anekdot:
|
1. Judul |
|
|
2. Abstrak |
Latar belakang atau gambaran umum tentang isi cerita. Abstrak bersifat opsional dalam teks anekdot bisa ada atau tidak ada. |
|
3. Orientasi |
Bagian cerita yang mengarah kepada krisis dan menjadi sebab kemunculan krisis/konflik. |
|
4. Krisis |
Permasalahan yang muncul pada cerita dan menjadi inti cerita. Pada bagian ini terdapat kejadian lucu/konyol yang mengundang tawa. |
|
5. Reaksi |
Tanggapan/respon tokoh terhadap masalah yang muncul pada krisis. Reaksi tokoh ini bisa berupa menertawakan atau mengejek. Dengan demikian, perlu ditegaskan reaksi bukan pemecahan masalah/solusi, akan tetapi respon/tanggapan tokoh terhadap krisis yang terjadi pada cerita. Di dalam teks anekdot tidak terdapat pemecahan masalah seperti yang terdapat pada teks legenda. |
|
6. Koda |
“Penutup atau simpulan sebagai pertanda berakhirnya cerita. Di dalamnya dapat berupa persetujuan, komentar, ataupun penjelasan atas maksud dari cerita yang dipaparkan sebelumnya. Bagian ini biasanya ditandai oleh kata-kata, seperti itulah,akhirnya, demikianlah. Keberadaan koda bersifat opsional; bisa ada ataupun tidak ada (https://zuhriindonesia.blogspot.com/2018/11/materi-pembelajaran-teks-anekdot.html).” |
Lebih lanjut, bagian-bagian pengisi struktur teks anekdot dapat pula dilihat pada cerita di bawah ini:
Contoh teks anekdot
Aksi Maling Tertangkap CCTV
|
|
|
|
Isi |
Struktur |
|
Seorang warga melapor kemalingan. |
Abstraksi |
|
Pelapor : “Pak saya kemalingan.” |
Orientasi |
|
Polisi : “Kemalingan kok beruntung. Bagaimana ceritanya?” |
Krisis |
|
Pelapor : “Belum .... “ (sambil menatap polisi dengan penuh
keheranan. |
Reaksi |
|
Pelapor : (hanya bisa pasrah tak berdaya). |
Koda |
dikutip dari https://zuhriindonesia.blogspot.com/2018/11/materi-pembelajaran-teks-anekdot.html (dengan penyesuaian)
Teks anekdot dapat disajikan dalam bentuk dialog maupun narasi. Teks anekdot dalam bentuk dialog biasanya disajikan dalam bentuk kalimat langsung/percakapan antartokoh yang diletakkan secara khusus dan terurut untuk menunjukkan alur cerita sebagaimana cerita Tuaq Alif di atas. Lebih jelas mengenai perbedaan teks anekdot dalam bentuk dialog dan narasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
|
|
|
|
Dialog |
Narasi |
|
Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut umum menyerang saksi. Jaksa : “Apakah benar, bahwa anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?” Saksi : (menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan) Jaksa : “Apakah benar, bahwa anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?” Saksi : (tidak menanggapi) Hakim : “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.” Saksi : (kaget) “Oh, maaf. Saya pikir dia tadi berbicara dengan Anda.” |
Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut umum menyerang saksi. “Apakah benar,” teriak Jaksa, “bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?” Saksi menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan. “Bukankah benar bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?” ulang pengacara. Saksi masih tidak menanggapi. Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.” “Oh, maaf.” Saksi terkejut sambil berkata kepada hakim, “Saya pikir dia tadi berbicara dengan Anda.” |
(https://zuhriindonesia.blogspot.com/2018/11/materi-pembelajaran-teks-anekdot.html).
Komentar
Posting Komentar